Solar Tumpah, Mafia Terkuak, Lima Tersangka Ditangkap, Tapi Siapa Bos Besar di Balik Permainan BBM Subsidi.

 

Dok : semua barang bukti dari sarana hingga perlengkapannya.

SuryaNews.my.id Bangkalan,- Tumpahan solar di Jalan Raya Arosbaya, Bangkalan, yang menyebabkan sejumlah pengendara berjatuhan ternyata membuka tabir dugaan praktik mafia BBM subsidi berskala besar di Jawa Timur. Namun di balik penangkapan lima tersangka oleh Satreskrim Polres Bangkalan, muncul pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah mereka benar-benar otak pelaku, atau hanya pion yang dikorbankan untuk menyelamatkan “raja solar” yang selama ini bermain di balik layar,.

Kasus ini bermula ketika jalan nasional Bangkalan licin akibat solar yang bocor dari truk bak kayu bernopol AG 8802 EL. Setelah diperiksa, truk tersebut ternyata telah dimodifikasi secara khusus dengan tangki tersembunyi berkapasitas 8 ton.

Fakta itu langsung mengundang kecurigaan publik. Sebab, modifikasi kendaraan, distribusi lintas kota, hingga penampungan ribuan liter solar subsidi bukanlah pekerjaan eceran. Ini bukan permainan sopir jalanan. Ini diduga bisnis besar dengan jaringan rapi, modal kuat, dan pengamanan yang terstruktur.

Kapolres AKBP Wibowo mengungkapkan bahwa pengembangan kasus membawa polisi ke sebuah gudang penampungan solar subsidi di Krian, Sidoarjo. Dari lokasi itu, polisi mengamankan sejumlah tandon biosolar, dua unit armada truk tangki industri dengan kapasitas 16.000 L, nopol AB 8050 AS, dan satunya Truk bak kayu dengan nopol AG 8802 PE. kapasitas 8000 L dengan label PT SRI KARYA LINTASINDO, pompa, selang, hingga flow meter. Dan 7 buah tandon masing masing dengan kapasitas 1000 L, 6 buah tandon sudah berisikan Bio solar dan 1 buah tandon masih kosong

Gudang lengkap. Armada lengkap. Distribusi antarwilayah berjalan. Pertanyaannya, mungkinkah semua ini hanya dikendalikan sopir, kernet, admin gudang, dan koordinator lapangan, masyarakat sulit mempercayainya.

Sebab dalam praktik mafia BBM subsidi, pola yang sering muncul hampir selalu sama: pekerja lapangan ditangkap, sementara pemilik modal dan pengendali utama menghilang di balik jaringan bisnis, kedekatan kekuasaan, atau nama perusahaan tertentu.

Lima orang memang telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun masyarakat mulai bertanya-tanya, apakah mereka benar-benar aktor utama atau hanya “tameng hukum” agar pemain besar tidak terseret ke permukaan,

Kecurigaan itu semakin menguat setelah muncul dugaan adanya jaringan distribusi solar subsidi yang sudah lama bermain di wilayah Madura hingga Surabaya dan Sidoarjo. Nama sejumlah kelompok usaha bahkan mulai ramai dibicarakan warga dan pelaku usaha migas lokal. 

Salah satunya disebut-sebut berkaitan dengan PT SKL ( SRI KARYA LINTASINDO) meski hingga kini belum ada pernyataan resmi maupun pembuktian hukum terkait keterlibatan perusahaan tersebut.

Jika benar praktik ini telah berlangsung lama, maka ada pertanyaan yang lebih tajam, siapa yang selama ini menikmati keuntungan dari selisih harga solar subsidi dan solar industri,.

Karena mustahil bisnis seperti ini berjalan tanpa perlindungan, koordinasi, dan jalur distribusi yang aman.

Solar subsidi sejatinya diperuntukkan bagi rakyat kecil,  nelayan, petani, sopir angkutan, dan pelaku UMKM. Namun dalam praktiknya, BBM bersubsidi justru diduga disedot oleh jaringan mafia untuk dijual kembali dengan harga industri demi meraup keuntungan besar.

Ironisnya, yang kerap muncul ke publik hanyalah wajah-wajah pekerja lapangan, sopir, kernet, penjaga gudang. Sementara aktor intelektual dan pemilik modal besar sering kali tak tersentuh.

Kini masyarakat menunggu keberanian aparat penegak hukum. Apakah penyidikan akan berhenti pada lima tersangka yang sudah diamankan, atau benar-benar membongkar siapa sosok besar yang mengendalikan aliran solar subsidi ilegal di Jawa Timur,.

Sebab bila hanya berhenti di level operator, publik akan semakin yakin bahwa penangkapan ini hanyalah panggung lama: menangkap tumbal, menyelamatkan bos besar. (Tim)

Lebih baru Lebih lama