Bagi Takjil di Depan Grahadi, Sedekah atau Panggung Pencitraan?

 

“Sedekah yang Dipertontonkan, Ketika Takjil dan Beras Jadi Alat Pencitraan”

SuryaNews.my.id Surabaya,- Tradisi berbagi takjil di bulan Ramadan merupakan bentuk kepedulian sosial yang telah lama dilakukan masyarakat. Selain menyegerakan berbuka puasa, kegiatan ini juga menjadi sarana berbagi kepada sesama, terutama kepada kaum dhuafa dan pengguna jalan.

Namun aksi pembagian takjil dan beras yang dilakukan pada 14 Maret lalu di depan Gedung Grahadi, Surabaya, memunculkan sejumlah pertanyaan di tengah masyarakat. Mengapa pembagian bantuan tersebut harus dilakukan di depan pusat pemerintahan Jawa Timur? Siapa sebenarnya pihak donatur di balik kegiatan itu?

Sejumlah pihak mempertanyakan apakah warga kurang mampu sengaja dikumpulkan terlebih dahulu untuk didata dan diberi kupon, kemudian diarahkan berkumpul di depan Grahadi sebelum bantuan dibagikan. Kegiatan tersebut juga disebut disertai dokumentasi foto dan video yang kemudian beredar di media sosial.

Jika benar demikian, muncul kekhawatiran bahwa warga kurang mampu tidak lagi diposisikan sebagai subjek yang harus diberdayakan, melainkan sekadar objek untuk menarik simpati publik. Kritik juga muncul terkait dugaan bahwa kemiskinan dijadikan “panggung” untuk membangun citra kepedulian.

Di sisi lain, ada pula sorotan terhadap oknum yang diduga menyalahgunakan nama LSM atau Ormas untuk kepentingan pribadi, termasuk tekanan terhadap pejabat maupun pelaku usaha dengan dalih kontrol sosial.

Padahal pada dasarnya, berbagi takjil merupakan kegiatan positif yang bertujuan membantu sesama, mempererat persaudaraan, serta mencari keberkahan di bulan Ramadan. Namun ketika kegiatan sosial dilakukan secara berlebihan dengan menonjolkan atribut pribadi atau organisasi, sebagian masyarakat dapat memandangnya sebagai bentuk pencitraan.

Pada akhirnya, sedekah seharusnya menjadi sarana memuliakan sesama manusia. Kepedulian sosial tidak selalu harus dipertontonkan, karena nilai utama dari sedekah adalah keikhlasan.

Kontributor: Eko Gagak

Lebih baru Lebih lama